Showing posts with label Islami dakwah. Show all posts
Showing posts with label Islami dakwah. Show all posts

Kesempurnaan Amalmu Ikhlasmu

Kesempurnaan Amalmu Ikhlasmu


https://avecdakwah.blogspot.co.id/2017/08/kesempurnaan-amalmu-ikhlasmu.htmlSecara bahasa ikhlas memiliki pengertian bersih dari segala noda dan menjadikan sesuatu murni, tanpa noda sedikitpun. Orang yang ikhlas karena Allah SWT adalah orang yang memenangkan Allah SWT dalam setiap aktivitas dan gerak hidupnya. Kemudian, dalam amalanya tidak disertai pamer, angkuh, serta tidak menghalangi manusia dari jalan Allah. Demikianlah orang yang ikhlas (QS. Al Anfal 8, 47).


Kedudukan ikhlas dalam Syariat Islam

Ibadah merupakan kewajiban setiap makhluk terhadap sang khaliq, karena justru untuk beribadah makhluk itu diciptakan tanpa terkecuali manusia. Dalam konteks ibadah, ikhlas itu sangat penting. Ia menentukan diterima tidaknya ibadah seseorang. Adapun kedudukan ikhlas dalam Dienul Islam ialah syarat-syaratnya ibadah. Banyak nash yang menunjukan tentang hal ini.

Ikhlas itu asasi

Betapa pentingnya keikhlasan ini, Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa amal shalih, baik yang wajib maupun yang sunnah, harus dibarengi dengan niat yang ikhlas karena Allah SWT.

Mencapai derajat ikhlas

Tidak mudah untuk menjadi Ikhlas. Perlu usaha yang serius dan terus-menerus untuk berserah diri total kepada Allah SWT. Ada beberapa petunjuk untuk mencapai ikhlas, yakni:
1. Meluruskan niat
2. Berusaha keras menjaga ibadah
3. Berkeras mewujudkan cinta pada Allah
4. Bersungguh-sungguh dalam kethaatan


Keikhlasan paripurna Mushab Al Khair

Namanya Mushab bin Umar. Ia seorang pemuda yang tampan wajahnya, hidup dalam lingkungan yang serba kecukupan. Ibunya, Khunas binti Malik, amat marah ketika mendengar berita keislaman Mushab. Dipenjarakanya Mushab disuatu ruangan, agar mau meninggalkan Islam dan kembali pada berhala. Mushan tinggal dipernjara sampai ketika ia berhasil meloloskan diri untuk ikut hijrah ke Habsyi bersama para sahabat Rasullullah lainnya. Ditinggalkanya rumah dengan segala kemewahan materinya.

Orang memanggilnya Mushab Al Khair. Semenjak keluar dari rumah dan bergabung dengan kaum muslimin, berbagai ujian berat dihadapinya. Suatu hari ia tampil di hadapan para sahabat yang sedang duduk mengelilingi Rasullullah Saw. Begitu melihat Mushab, mereka menunjukan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa sahabat matanya basah, tidak tega melihatnya. Mereka melihat Mushab memakai baju lusuh yang bertambal-tambal. Padahal sebelum ia masuk Islam, begitu indah pakaiannya. Bersabda Rasulullah Saw, "Dahulu saya melihat Mushab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya. Kemudian ditinggalkanya semua itu demi cintanya kepada Allah dan RasulNya."

Dipeperangan Uhud ia terpilih sebagai pemimpin bawa bendera. Perang berkecamuk begitu seru, dan kaum Muslimin sempat terpukul mundur oleh kekuatan pasukan kafir. Pada saat yang genting seperti ini, Mushab tampil ke depan. Ia acungkan bendera tinggi-tinggi, sementara tangan satunya lagi memainkan pedang dengan lincahnya. Niatnya agar perhatian musuh tertuju padanya sehingga melupakan Rasulullah Saw. Ia ikhlas mengorbankan dirinya. Perhatikan kesaksian saat-saat terkahir kepahlawanan Mushab al Khair.

Sumber : Wa Islama Buletin dakwah

Trik Menghadapi Fitnah

Sering terjadinya fitnah di kalangan kaum muslimin bukanlah hal yang asing. Ia telah ada sejak fase pertama dakwah Islam di zaman nabi Muhammah Saw, bahkan juga pada masa-masa nabi sebelumnya. Fitnah terhadap ummat Islam akan senantiasa ada, karena itu menjadi salah satu faktor penguji keimanan seorang hamba.

Fitnah mengandung makna yang bermacam-macam, tergantung jenis peristiwa dan saat terjadinya. Fitnah bisa berarti petaka atau bencana yang melanda Ummat Islam. Fitnah juda dapat berupa tipu daya dan intrik kaum kafir dalam rangka menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Fitnah juga bisa berbentuk ujian yang datang dari Allah Swt dalam rangka menguji keimanan dan ketakwaan seseorang atau kaum muslimin. Fitnah dalam bentuk terjadinya bencana atau malapetaka yang menimpa kaum Muslimin barangkali tidak terlalu sering. Akan tetapi fitnah dalam bentuk kedua (tipu daya dan intrik kaum kafir) dan juga ketiga tidak akan kunjung berhenti. Kedua jenis fitnah ini terus menerus menerpa, sampai keimanan dan kekuatan hati kaum muslimin benar-benar teruji.

Dengan demikian, fitnah yang dialami seorang muslim sama dengan ujian kenaikan tingkat. Makin berat dan sulit ujiannya, makin tinggi pula peringkat yang akan dicapai di sisi Allah. Demikian halnya kaum Muslimin, makin banyak dan makin berat ujian yang diberikan Allah kepada mereka akan makin meningkatkan iman dan takwa mereka kepada Allah. Sekaligus juga sebagai proses kristalisasi untuk memilih siapa muslim sejati dan siapa pula muslim palsu.

Menghadapi Fitnah

Sudah menadi bentuk sunnatullah, dimana ada ujian di situ ada jalan. Dimana ada penyakit di sana ada obatnya. Allah tidak akan pernah menurunkan suatu ujian kepada manusia tanpa diiringi dengan jalan keluarnya. Seperti juga Allah tidak akan mengeluarkan penyakit kalau tidak adaa obatnya. Demikian ketentuan Allah yang pasti berlaku.

Kembali pada Allah dan Rasul

Rasulullah dalam hal berumah tangga pernah terkena fitnah yang dilemparkan kaum munafik yaitu memfitnah Siti Aisyah Ra melakukan hal-hal yang tidak senonoh dengan sahabat Safwan. Dalam peristiwa ini dikenal dengan Haditsul Ifki atau berita bohong. Kaum muslimin nyaris porak poranda setelah mendengar fitnah itu, keadaan reda setelah Allah menurunkan firmanNya yang membantah berita bohong itu, sekaligus meneguhkan kesucian Siti Aisyah Ra. Peristiwa tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa fitnah memiliki target memecah belah kesatuan kaum Muslimin dan cara menghadapinya kita harus kembali kepada Allah dan Rasul. Setelah kembali pada Allah dan Rasul yang kedua untuk mengatasi fitnah adalah klarifikasi dan Ishlah (mengadakan perdamaian). Maksud dari ishlah adalah sikap seorang muslim yang suka menahan diri dari memperturutkan emosi, suka menyambung silahturahmi, menyambung tali persaudaraan, dan senantiasa mencari jalan terbaik dan penuh manfaat.

Mempertahankan Kokohnya Keimanan

Keberhasilan suatu perjuangan pada akhirnya ditentukan oleh kekuatan internal yang bersangkutan. Betapapun keras dan hebatnya serangan musuh Islam, tidak akan ada artinya sepanjang umat Islam sendiri memiliki kekebalan dan ketangguhan yang prima. Ibarat tubuh yang sehat dan bugar akan berhasil mengusir penyakit yang datang dari luar. Sebaliknya kondisi tubuh yang lemah dan kurang fit akan mudah sekali terserang penyakit, walau dengan sebab yang sepele sekalian. Demikianlah yang sudah kita pahami dalam strategi dakwah Islamiyah.

Ketekunan musuh-musuh Islam merancang, memprogram, dan melakukan aktivitas pengrusakan umat adalah suatu hal yang wajar. Sebab hal itu memang sudah menjadi tabiat, karakter, dan program utamanya. 

Kewajiban kita adalah memperkuat daya tahan dan stamina dalam berjuang. Perjalanan dakwah Islam ini sangat panjang, melelahkan, dan membutuhkan kesabaran dan kekuatan prima. Tanpa keteguhan internal niscaya orang akan tergelincir pada lembah keputusasaan, kekhawatiran, dan kelemahan. Dengan daya tahan dan kekebalan iman itu, serangan gencar musuh-musuh Islam tidak dapat menggoncangkan kesatuan umat.

Sumber: Wa Islama Buletin Dakwah

Advertisement

Solidaritasmu Imanmu

Solidaritasmu Imanmu



"Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, masing-masing tidak boleh mendzalimi dan membiarkan yang lain tanpa pertolongan. Barangsiapa memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa melepaskan kesusahan saudaranya, maka Allah akan melepaskan kesusahannya di Hari Kiamat. Dan barangsiapa menutup cela seorang muslim, maka Allah akan menutup cela dirinya pada Hari Kiamat." (THR. Bukhori Muslim).
 
Solidaritas adalah sifat solider; sifat satu rasa; perasaan setia kawan (KBBI). Secara umum dapat dikatakan bahwa solidaritas adalah rasa senasib sepenanggungan, keadaan di mana seseorang senantiasa merasakan keadaan dan kejadian yang dialami oleh saudaranya apakah itu berupa kesenangan, kegembiraan, dan kebahagaian maupun kesedihan dan penderitaan. Rasa senasib sepenanggungan itu ditimbulkan oleh adanya rasa cinta dan kasih sayang. Pada dasarnya rasa cinta yang tumbuh dalam ukhuwah adalah manifestasi dari eksistensi iman dalam dirinya. Solidaritas adalah salah satu wujud adanya Ukhuwah Islamiyah. 

 Mencintai karena Allah SWT

Salah satu unsur terpenting dalam ukhuwah adalah cinta. Oleh karena iman itu bertambah dan berkurang, naik dan turun, maka demikian pula halnya dengan cinta seseorang kepada saudaranya. Cinta memang bertingkat-tingkat. Derajat muhabbah (cinta) paling ringan adalah salamatush shadr (bersihnya hati seseorang terhadap saudaranya, husnudzon/ baik sangka) dari perasaan hasud, benci, dengki, dan sebab-sebab pertengkaran maupun permusuhan.

Saling benci dan permusuhan adalah siksaan yang diberikan Allah SWT kepada orang-orang yang kufur terhadap RisalahNya. Pada dasarnya suasana kebencian dan permusuhan adalah suasana dan keadaan yang buruk tidak menyenangkan. Pada keadaan seperti itulah syaithan dapat menjual daganganya dengan laris manis seperti suudzon (buruk sangka), tajassus (memata-matai, mencari-cari keburukan orang lain), mengadu domba, dusta, ghibah, dan lainnya. Dengan demikian memperbaiki hubungan adalah amal kebajikan yang amat bernilai tinggi.

Berikutnya tingkat muhabbah yang paling tinggi adalah itsar. Rasullulah SAW bersabda: "Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri." (THR. Muttafaqun 'alaih). Itsar adalah mendahulukan kepentingan dan kebutuhan saudaranya daripada diri sendiri terhadap segala urusan yang disukai dan dicintainya. Itulah yang dipersembahkan Kaum Anshar atas saudaranya Muhajirin. 

Karakteristik Orang-orang yang Ber-Ukhuwah Islamiyah

Semua memang bersumber dari keberadaan Iman. Pada kenyataanya kokoh tidaknya hubungan ukhuwah islamiyah itu memang sangat bergantung kepada keadaan pribadi masing-masing yang bersangkutan dengan iman. Gambaran sedikit detail diberikan oleh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi. Beliau menyebutkan bahwa orang-orang yang harus dijadikan saudara memiliki karakteristik kepribadian sebagai berikut:
1. Berakal
2. Berakhlak mulia
3. Bertakwa
4. Berpegang teguh pada Al Quran dan As Sunah.

Hak-hak Ukhuwah 

Dalam Islam hak-hak ukhuwah diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Membantu dengan dana
2. Membantu saudaranya memenuhi kebutuhannya, mengutamakan saudaranya.
3. Menjaga lisan dengan tidak membeberkan aib saudaranya baik sepengetahuan maupun tanpa sepengetahuannya, tidak membongkar seluruh rahasianya, dan tidak berusaha mengetahui rahasia-rahasia saudaranya.
4. Memberikan sesuatu yang dicintai saudaranya dari lisannya dengan memanggil dengan nama yang paling dia sukai, menyebutkan kebaikannya tanpa sepengetahuannya atau didepannya, menyampaikan pujian orang kepadanya sebagai bentuk keirian kepadanya dsb.\
5. Memaafkan kesalahanya, menutupi aibnya, dan berbaik sangka kepadanya.
6. Memiliki hak ukhuwah dengan mengokohkan dan mempertahankan perjanjiannya dsb.
7. Tidak menyuruh saudaranya mengerkajan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya atau tidak disenanginya.
8. Mendoakan saudaranya, anak-anaknya, dan orang-rang yang terkait dengannya.

Sumber Kutipan:

Wa Islama Buletin Dakwah. Edisi 24/ XXVII
 

Fitnah Syubat dan Syahwat

Fitnah Syubat dan Syahwat

"Orang yang bijak adalah orang yang mampu menundukan hawa nafsunya, menginstropeksi dirinya, dan beramal untuk menjadi bekal setelah matinya. Sedangkan orang yang lemah adalah yang menuruti hawa nafsunya lalu berangan-angan agar Allah (mengampuni dosa-dosanya)." (H.R Ahmad At-Tarmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, Shahih).


Kalau kita cermati sebagai seorang muslim yang menjalani kehidupan yang sementara di dunia ini, ada beberapa aral yang melintang dihadapan kita yang menjadi penghalang bagi kita untuk menapaki fitrah kita yang suci. Kalau kita tidak waspada, perintang-perintang ini akan menggerogoti dan mengikis habis iman kita atau paling tidak akan membuat iman kita menjadi labil, keruh, dan tidak murni lagi akibat noda-noda dan racun yang ditebarkannya. Perintang-perintang ini sangat beragaram dan banyak sekali, namun menurut Imam Ibnu 'Izz Al-Hanafi kesemuanya itu bermuara pada dua hal yaitu: Syubat dan Syahwat.

Perintang Pertama adalah Fitnah Syubat

Menurut Imam Ibnu Qayyun Al-Jauziyah penyebab fitnah ini adalah lantaran lemahnya iman seseorang dan sedikitnya ilmu yang dimilikinya disamping niat yang rusak dan gelora mengikuti hawa nafsu yang membara dalam jiwanya (Ighatsul Lahfab 2/584). Fitnah ini lebih berbahaya jika dibandingkan dengan fitnah syahwat, karena fitnah ini dikemas oleh penebar-penebarnya dengan nama Islam, berlabelkan syariat dan menggunakan dalil-dalil dari Al Quran dan As Sunah untuk mengukuhkan dan membuat orang tertarik, terpukau, dan terpesona dengan lontaran-lontaran pemikiran yang mereka gulirkan hingga merekapun akhirnya tidak segan-segan untuk mengikuti alur pemikiran yang menyimpang tersebut.

Fitnah Syubat ini meliputi berbagai bidang garap, diantarnya : pertama bidang aqidah, merupakan sumber kekuatan keimanan seorang muslim, dari kekuatan aqidah inilah muncul semangat dalam jiwa seseorang untuk mengaplikasikan bentuk-bentuk ibadah yang disyariatkan Allah kepada manusia. Oleh karenanya kemurnian aqidah merupakan hal yang sangat menetukan bagi diterima atau tidaknya suatu amalan.

Allah tidak akan menerima amal seseorang yang aqidahnya menyimpang karena terkena fitnah syubat dan diantara contoh fitnah syubat yang paling bahaya di dibadang aqidah adalah fitnah kemusyrikan. Sisi lain yang termasuk dalam fitnah syubat dibidang aqidah adalah menjamurnya aliran-aliran keagamaan yang menyimpang dari aqidah yang benar, seperti Mu'taziah, Khawarij, Syiah, Qadariyah, Jabariyah, Jahmiyah dan aliran menyimpang yang lainnya. Masing-masing aliran agama menyimpang ini memandang bahwa aliran dan kelompok merekalah yang paling benar, sementara kelompok selain mereka adalah kelompok sesat, untuk membenarkan ajaran mereka, merekapun mengadopsi dalil dari Al Quran dan As Sunah kemudian mencocokannya dengan pemikiran dan hawa nafsu mereka, apabila cocok mereka teruskan dan apabila tidak sesuai dengan pemikiran dan hawa nafsu mereka, mereka campakkan dan mereka singkirkan jauh-jauh.

Fitnah syubat yang kedua adalah fitnah syubat dalam bidang ibadah

Fitnah itu tidak kalah bahayanya dibandingkan dengan fitnah yang pertama, karena fitnah ini akan menjerumuskan pelakunya ke jurang kesesatan. Pengertian fitnah syubat dalam bidang ibadah adalah melakukan bentuk-bentuk ibadah tertentu yang sebenarnya tidak ada tuntunannya dari Rasululloh SAW lalu menyatakan bahwa hal itu adalah sunnah. Ringkasnya, fitnah syubat adalah bid'ah. Oleh karenanya, fitnah syubat dalam bentuk ini lebih disukai oleh iblis dari pada perbuatan maksiat yang dilakukan oleh seseorang.

Memang, lantaran pelakunya merasa tidak bersalah, maka ia merasa tidak perlu untuk bertaubat dariNya. Bahkan justru sebaliknya, ia akan tetap melaksanakan amalan tersebut terus menerus, berangkat dari keyakinannya akan kebenaran amalan tersebut. Satu hal yang perlu kita ingat, bahwa semakin seseorang itu bersungguh-sungguh dalam melaksanakan amalan yang bid'ah tersebut, maka Allah SWT akan semakin jauh darinya.

Adapun jenis fitnah yang kedua adalah fitnah syahwat

Pengertiannya adalah segala perbuatan yang dapat mengikis, menggerogoti dan melemahkan iman seseorang yang berasal dari hawa nafsu. Nama lain dari fitnah itu adalah maksiat. Fitnah ini juga amat berbahaya, lantaran dapat merusak iman seseorang, seperti yang dituturkan oleh Imam Al-Bukhori dan lainnya, bahwa iman itu bisa meningkat apabila melakukan ketaatan dan berkurang lantaran melakukan kemaksiatan. Oleh karenanya, para staf mengajak kita untuk berhati-hati terhadap hal ini. Orang yang terkena fitnah syahwat cenderung malas untuk beribadah, bahkan dalam kondisi imannya kritis ia tidak segan-segan untuk meninggalkan perintah Allah dan melanggar laranganNya. 

Fitnah syahwat ini bermacam-macam bentuk dan jenisnya, diantaranya sebagaimana disebutkan Allah dalam firmanNya: "Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada syahwat berupa wanita, anak-anak, harta kekayaan melimpah dari jenis emas, perak, kuda peliharaan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia ini. Dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (syurga)." (Ali Imran: 14). Janganlah kita terperdaya oleh hal-hal tersebut diatas, namun upayakanlah agar keberadaan mereka tidak melalaikan kita dari mengingat Allah bahkan sebagai pendorong untuk lebih meningkatkan prestasi ibadah yang kita lakukan.

Sumber kutipan: Risalah Jum'at diterbitkan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY.

Advertisement

Diciptakan dengan Kelebihan yang Sempurna

Diciptakan dengan Kelebihan yang Sempurna

Manusia itu Makhluq Mulia

 

Banyak kalangan terpelajar muslim terlanjur setuju dengan penggambaran manusia sebagi hewan yang berakhlaq. Padahal rumusan seperti itu tumbuh dari filsafat Barat yang tidak Islami, dengan rumusan ini lahirlah teori- teori lain di bidang filsafat, sosiologi, dan psikologi yang pada prinsipnya menekankan segi kehewanan manusia.

Teori psikologi yang menyatakan bahwa usia 40 tahun adalah masa puber ke dua bagi kaum lelaki adalah sebuah contoh. Teori yang berdasarkan atas psikoanalisa Freud yang sangat menekankan masalah libido (birahi) ini pada hakekatnya sekedar pelampiasan nafsu syaithan manusia. Mengatakan 40 tahun adalah puber kedua, yang ingin diraih sebenarnya adalah legitimasi atas tingkah penyelewengan umat manusia. Dengan teori diatas, perbuatan maksiat seksual kaum lelaki menjadi dianggap wajar dan ilmiah. Padahal dalam Al Quran dengan tegas merumuskan, bahwa manusia itu adalah makhluk yang Allah ciptakan dalam sebaik-baik penciptaan. Sepanjang manusia memelihara unsur-unsur di mana ia jadi makhluk termulia itu, tetaplah ia berada pada derajat ahsanut-taqwim. Namun, apabila menyeleweng dari tuntunan Allah SWT, maka ia meluncur pada kategori asfala safilin (sejelek-jelek dan serendah-rendah kedudukan).

Ada beberapa aspek yang menempatkan manusia pada derajat ahsanut-taqwim. Pertama, menyangkut aspek bahan baku penciptaan manusia. Kedua, soal tugas dan esensi penciptaan manusia di muka bumi. Ketiga, soal peran dan fungsi yang mesti dilakukan oleh manusia. Bahan baku menurut Al-Quran terdiri dari aspek jasad dan ruh. Aspek jasad yang diambil dari unsur bumi, melambangkan segala kerendahan dan ketamakan pada dunia. Sementara aspek ruh yang diambil dari unsur langit mengisyaratkan ketinggian, kesucian, dan kemuliaan. Manusia yang sukses di sisi Allah adalah mereka yang mampu menempatkan ruh nya sebagai pengontrol kehendak duniawinya.

Misi Universal Manusia

Adapun tugas dan kewajiban manusia di bumi, tidak lain kecuali mengabdi (beribadah) hanya kepada Allah SWT. Itulah tugas utama yang mesti diemban manusia. Pengertian dari beribadah adalah menjadi seluruh aspek kehidupan sebagai pengabdian kepada Allah. Pengertian Ibadah secara tuntas digambarkan Al Anam 162- 163: "Katakanlah sesungguhnya shalatku, perbuatanku, penggunaan waktuku, dan akhir ajalku adalah bagi Allah SWT tidak ada sekutu bagiNya, dan dengan itulah aku diperintah. Dan aku adalah orang yang mula-mula Muslim (tunduk, taat, patuh)". (QS Al An'am 6, 162-163).

Adapun fungsi manusia adalah sebagai khalifah di muka bumi. Makna khalifah yang lain adalah pemelihara, pengelola, dan pemakmur bumi. Dengan demikian, manusia harus berusaha sekuat tenaga dan fikiran untuk melaksanakan misi kekhalifahannya itu.

Ada dua tugas pokok khalifah yaitu pemelihara dan pemakmur. Manifestasi dari kedua tugas tersebut adalah "yaitu orang-orang yang apabila kami teguhkan kedudukanya di muka bumi, mendirikan shalat, membayar zakat, menyuruh yang ma'ruf, dan mencegah munkar. Dan bagi Allahlah akhir putusan segala urusan." (QS. Al Hajj 22, 41).

Dalam rangka keduanyalah manusia wajib berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan tugas yang dipikulnya dengan baik, tugas Allah yang di emban manusia setelah langit, bumi, dan makhluk lainnya tak kuasa memikulnya. "Dan telah kami ajukan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung suatu amanat, tetapi mereka tak kuasa untuk menerimanya dan merasa berat untuk melaksanakannya. Maka diembanlah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu makhluk yang dzalim dan bodoh". (QS. Al Ahzab 33, 72).

Itulah fungsi kekhalifahan manusia, di satu sisi merupakan kedudukan mulia, di satu sisi merupakan ujian Allah. Ujian untuk menilai siapa hamba-hambaNya yang benar-benar beramal sesuai dengan petunjukNya lalu siapa yang telah menyelewengkan perannya. Mereka berkhianat disebut Allah dengan ungkapan dzalim dan bodoh. Adapun manusia-manusia yang sukses memerankan kedua fungsi tersebut, itulah sebaik-baik manusia di hadapan Allah SWT. Merekalah yang berhasil mendapat ridhaNya. Di akhirat mereka akan dijauhkan dari neraka, dan dimasukkan surga. 

Manusia Berperilaku Hewan

Allah menggelari manusia yang menyimpang dari tugas dan fungsinya dengan kecaman yang pedas. Di antara mereka ada yang disebut sebagai binatang ternak (Al Anam), "Dan kami telah sediakan bagi isi jahannam itu dari kebanyakan jin dan manusia. mereka mempunyai hati tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah SWT, mereka punya mata tetapi tidak digunakan untuk melihat kekuasaan Allah, mereka punya telinga tetapi tidak dipakai untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti hewan ternak. Bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah kaum yang lalai. (QS. Al Araf 7, 179).

Serakus- rakusnya hewan ternak, ia tidak pernah memakan sesuatu melebihi kebutuhan sendiri. Meski rakus, hewan ternak masih berguna untuk sembelihan, korban, dsb. Sementara manusia? tidak cukup sekedar memenuhi kebutuhan diri, bahkan hingga kebutuhan anak cucunya selama tujuh turunan. Dia tidak peduli harus menipu, memeras, menindas, dan menganiaya sesama untuk meraihnya.

sumber kutipan: Buletin Dakwah Wa Islama