Seberapa Pentingkah Planning dalam Berwirausaha?

Seberapa Pentingkah Planning dalam Berwirausaha?




Halo semuanya, kita sharing bersama mengenai penting tidaknya sebuah planning bagi seseorang untuk memulai suatu usaha.

Cerita dari pengalaman salah satu teman saya yang sudah mempunyai usaha sendiri, dia mempunyai mindset yang berbeda dengan saya, teman saya memiliki mindset yang terpenting adalah action jangan terlalu memikirkan planning seperti apa, kita tidak akan tahu kendala-kendala apa yang akan kita hadapi jika tidak mencobanya. Seorang planning maker akan memikirkan bagaimana planning yang matang dan juga cadangannya jika planning pertama tidak berhasil. Seperti contoh kebanyakan dari kita akan memikirkan Plan A dan Plan B, jika Plan A mengalami kegagalan maka Plan B digunakan. Coba kita telaah bersama, seseorang yang dari awal sudah mempunyai kedua Plan tsb akan dibebani dengan mindset jika Plan A gagal maka ada Plan B, jika Plan B gagal maka apa? mungkin itu mindset yang akan mengendorkan motivasi kita untuk memulai suatu usaha. 

Pengalaman saya selama ini, jika dikaitkan dengan hal tersebut di atas mungkin benar. Kendala-kendala yang menghambat action untuk berwirausaha adalah salah satunya kebanyakan rencana tetapi minim tindakan, itu yang selalu saya garis bawahi. Kendala yang lain adalah kurangnya dukungan dari faktor lingkungan kita tinggal, itu memang sangat mempengaruhi action kita untuk memulai sesuatu. Kendala yang lain adalah faktor modal untuk memulai usaha, kita akan terbatasi action karena memikirkan modal besar untuk memulai. Padahal sebenarnya kita bisa memulai dengan modal kecil yang ada terlebih dahulu setelah itu sedikit demi sedikit menambah kekurangannya. 

Jadi menurut kalian apakah planning itu penting atau tidak, bagaimana meningkatkan action kita agar tidak menjadi rencana secara terus-menerus, share pengalaman kalian disini untuk sharing bersama mengenai tema Planning? 




Kesempurnaan Amalmu Ikhlasmu

Kesempurnaan Amalmu Ikhlasmu


https://avecdakwah.blogspot.co.id/2017/08/kesempurnaan-amalmu-ikhlasmu.htmlSecara bahasa ikhlas memiliki pengertian bersih dari segala noda dan menjadikan sesuatu murni, tanpa noda sedikitpun. Orang yang ikhlas karena Allah SWT adalah orang yang memenangkan Allah SWT dalam setiap aktivitas dan gerak hidupnya. Kemudian, dalam amalanya tidak disertai pamer, angkuh, serta tidak menghalangi manusia dari jalan Allah. Demikianlah orang yang ikhlas (QS. Al Anfal 8, 47).


Kedudukan ikhlas dalam Syariat Islam

Ibadah merupakan kewajiban setiap makhluk terhadap sang khaliq, karena justru untuk beribadah makhluk itu diciptakan tanpa terkecuali manusia. Dalam konteks ibadah, ikhlas itu sangat penting. Ia menentukan diterima tidaknya ibadah seseorang. Adapun kedudukan ikhlas dalam Dienul Islam ialah syarat-syaratnya ibadah. Banyak nash yang menunjukan tentang hal ini.

Ikhlas itu asasi

Betapa pentingnya keikhlasan ini, Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa amal shalih, baik yang wajib maupun yang sunnah, harus dibarengi dengan niat yang ikhlas karena Allah SWT.

Mencapai derajat ikhlas

Tidak mudah untuk menjadi Ikhlas. Perlu usaha yang serius dan terus-menerus untuk berserah diri total kepada Allah SWT. Ada beberapa petunjuk untuk mencapai ikhlas, yakni:
1. Meluruskan niat
2. Berusaha keras menjaga ibadah
3. Berkeras mewujudkan cinta pada Allah
4. Bersungguh-sungguh dalam kethaatan


Keikhlasan paripurna Mushab Al Khair

Namanya Mushab bin Umar. Ia seorang pemuda yang tampan wajahnya, hidup dalam lingkungan yang serba kecukupan. Ibunya, Khunas binti Malik, amat marah ketika mendengar berita keislaman Mushab. Dipenjarakanya Mushab disuatu ruangan, agar mau meninggalkan Islam dan kembali pada berhala. Mushan tinggal dipernjara sampai ketika ia berhasil meloloskan diri untuk ikut hijrah ke Habsyi bersama para sahabat Rasullullah lainnya. Ditinggalkanya rumah dengan segala kemewahan materinya.

Orang memanggilnya Mushab Al Khair. Semenjak keluar dari rumah dan bergabung dengan kaum muslimin, berbagai ujian berat dihadapinya. Suatu hari ia tampil di hadapan para sahabat yang sedang duduk mengelilingi Rasullullah Saw. Begitu melihat Mushab, mereka menunjukan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa sahabat matanya basah, tidak tega melihatnya. Mereka melihat Mushab memakai baju lusuh yang bertambal-tambal. Padahal sebelum ia masuk Islam, begitu indah pakaiannya. Bersabda Rasulullah Saw, "Dahulu saya melihat Mushab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya. Kemudian ditinggalkanya semua itu demi cintanya kepada Allah dan RasulNya."

Dipeperangan Uhud ia terpilih sebagai pemimpin bawa bendera. Perang berkecamuk begitu seru, dan kaum Muslimin sempat terpukul mundur oleh kekuatan pasukan kafir. Pada saat yang genting seperti ini, Mushab tampil ke depan. Ia acungkan bendera tinggi-tinggi, sementara tangan satunya lagi memainkan pedang dengan lincahnya. Niatnya agar perhatian musuh tertuju padanya sehingga melupakan Rasulullah Saw. Ia ikhlas mengorbankan dirinya. Perhatikan kesaksian saat-saat terkahir kepahlawanan Mushab al Khair.

Sumber : Wa Islama Buletin dakwah

Advertisement

Trik Menghadapi Fitnah

Sering terjadinya fitnah di kalangan kaum muslimin bukanlah hal yang asing. Ia telah ada sejak fase pertama dakwah Islam di zaman nabi Muhammah Saw, bahkan juga pada masa-masa nabi sebelumnya. Fitnah terhadap ummat Islam akan senantiasa ada, karena itu menjadi salah satu faktor penguji keimanan seorang hamba.

Fitnah mengandung makna yang bermacam-macam, tergantung jenis peristiwa dan saat terjadinya. Fitnah bisa berarti petaka atau bencana yang melanda Ummat Islam. Fitnah juda dapat berupa tipu daya dan intrik kaum kafir dalam rangka menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Fitnah juga bisa berbentuk ujian yang datang dari Allah Swt dalam rangka menguji keimanan dan ketakwaan seseorang atau kaum muslimin. Fitnah dalam bentuk terjadinya bencana atau malapetaka yang menimpa kaum Muslimin barangkali tidak terlalu sering. Akan tetapi fitnah dalam bentuk kedua (tipu daya dan intrik kaum kafir) dan juga ketiga tidak akan kunjung berhenti. Kedua jenis fitnah ini terus menerus menerpa, sampai keimanan dan kekuatan hati kaum muslimin benar-benar teruji.

Dengan demikian, fitnah yang dialami seorang muslim sama dengan ujian kenaikan tingkat. Makin berat dan sulit ujiannya, makin tinggi pula peringkat yang akan dicapai di sisi Allah. Demikian halnya kaum Muslimin, makin banyak dan makin berat ujian yang diberikan Allah kepada mereka akan makin meningkatkan iman dan takwa mereka kepada Allah. Sekaligus juga sebagai proses kristalisasi untuk memilih siapa muslim sejati dan siapa pula muslim palsu.

Menghadapi Fitnah

Sudah menadi bentuk sunnatullah, dimana ada ujian di situ ada jalan. Dimana ada penyakit di sana ada obatnya. Allah tidak akan pernah menurunkan suatu ujian kepada manusia tanpa diiringi dengan jalan keluarnya. Seperti juga Allah tidak akan mengeluarkan penyakit kalau tidak adaa obatnya. Demikian ketentuan Allah yang pasti berlaku.

Kembali pada Allah dan Rasul

Rasulullah dalam hal berumah tangga pernah terkena fitnah yang dilemparkan kaum munafik yaitu memfitnah Siti Aisyah Ra melakukan hal-hal yang tidak senonoh dengan sahabat Safwan. Dalam peristiwa ini dikenal dengan Haditsul Ifki atau berita bohong. Kaum muslimin nyaris porak poranda setelah mendengar fitnah itu, keadaan reda setelah Allah menurunkan firmanNya yang membantah berita bohong itu, sekaligus meneguhkan kesucian Siti Aisyah Ra. Peristiwa tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa fitnah memiliki target memecah belah kesatuan kaum Muslimin dan cara menghadapinya kita harus kembali kepada Allah dan Rasul. Setelah kembali pada Allah dan Rasul yang kedua untuk mengatasi fitnah adalah klarifikasi dan Ishlah (mengadakan perdamaian). Maksud dari ishlah adalah sikap seorang muslim yang suka menahan diri dari memperturutkan emosi, suka menyambung silahturahmi, menyambung tali persaudaraan, dan senantiasa mencari jalan terbaik dan penuh manfaat.

Mempertahankan Kokohnya Keimanan

Keberhasilan suatu perjuangan pada akhirnya ditentukan oleh kekuatan internal yang bersangkutan. Betapapun keras dan hebatnya serangan musuh Islam, tidak akan ada artinya sepanjang umat Islam sendiri memiliki kekebalan dan ketangguhan yang prima. Ibarat tubuh yang sehat dan bugar akan berhasil mengusir penyakit yang datang dari luar. Sebaliknya kondisi tubuh yang lemah dan kurang fit akan mudah sekali terserang penyakit, walau dengan sebab yang sepele sekalian. Demikianlah yang sudah kita pahami dalam strategi dakwah Islamiyah.

Ketekunan musuh-musuh Islam merancang, memprogram, dan melakukan aktivitas pengrusakan umat adalah suatu hal yang wajar. Sebab hal itu memang sudah menjadi tabiat, karakter, dan program utamanya. 

Kewajiban kita adalah memperkuat daya tahan dan stamina dalam berjuang. Perjalanan dakwah Islam ini sangat panjang, melelahkan, dan membutuhkan kesabaran dan kekuatan prima. Tanpa keteguhan internal niscaya orang akan tergelincir pada lembah keputusasaan, kekhawatiran, dan kelemahan. Dengan daya tahan dan kekebalan iman itu, serangan gencar musuh-musuh Islam tidak dapat menggoncangkan kesatuan umat.

Sumber: Wa Islama Buletin Dakwah

Solidaritasmu Imanmu

Solidaritasmu Imanmu



"Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, masing-masing tidak boleh mendzalimi dan membiarkan yang lain tanpa pertolongan. Barangsiapa memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa melepaskan kesusahan saudaranya, maka Allah akan melepaskan kesusahannya di Hari Kiamat. Dan barangsiapa menutup cela seorang muslim, maka Allah akan menutup cela dirinya pada Hari Kiamat." (THR. Bukhori Muslim).
 
Solidaritas adalah sifat solider; sifat satu rasa; perasaan setia kawan (KBBI). Secara umum dapat dikatakan bahwa solidaritas adalah rasa senasib sepenanggungan, keadaan di mana seseorang senantiasa merasakan keadaan dan kejadian yang dialami oleh saudaranya apakah itu berupa kesenangan, kegembiraan, dan kebahagaian maupun kesedihan dan penderitaan. Rasa senasib sepenanggungan itu ditimbulkan oleh adanya rasa cinta dan kasih sayang. Pada dasarnya rasa cinta yang tumbuh dalam ukhuwah adalah manifestasi dari eksistensi iman dalam dirinya. Solidaritas adalah salah satu wujud adanya Ukhuwah Islamiyah. 

 Mencintai karena Allah SWT

Salah satu unsur terpenting dalam ukhuwah adalah cinta. Oleh karena iman itu bertambah dan berkurang, naik dan turun, maka demikian pula halnya dengan cinta seseorang kepada saudaranya. Cinta memang bertingkat-tingkat. Derajat muhabbah (cinta) paling ringan adalah salamatush shadr (bersihnya hati seseorang terhadap saudaranya, husnudzon/ baik sangka) dari perasaan hasud, benci, dengki, dan sebab-sebab pertengkaran maupun permusuhan.

Saling benci dan permusuhan adalah siksaan yang diberikan Allah SWT kepada orang-orang yang kufur terhadap RisalahNya. Pada dasarnya suasana kebencian dan permusuhan adalah suasana dan keadaan yang buruk tidak menyenangkan. Pada keadaan seperti itulah syaithan dapat menjual daganganya dengan laris manis seperti suudzon (buruk sangka), tajassus (memata-matai, mencari-cari keburukan orang lain), mengadu domba, dusta, ghibah, dan lainnya. Dengan demikian memperbaiki hubungan adalah amal kebajikan yang amat bernilai tinggi.

Berikutnya tingkat muhabbah yang paling tinggi adalah itsar. Rasullulah SAW bersabda: "Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri." (THR. Muttafaqun 'alaih). Itsar adalah mendahulukan kepentingan dan kebutuhan saudaranya daripada diri sendiri terhadap segala urusan yang disukai dan dicintainya. Itulah yang dipersembahkan Kaum Anshar atas saudaranya Muhajirin. 

Karakteristik Orang-orang yang Ber-Ukhuwah Islamiyah

Semua memang bersumber dari keberadaan Iman. Pada kenyataanya kokoh tidaknya hubungan ukhuwah islamiyah itu memang sangat bergantung kepada keadaan pribadi masing-masing yang bersangkutan dengan iman. Gambaran sedikit detail diberikan oleh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi. Beliau menyebutkan bahwa orang-orang yang harus dijadikan saudara memiliki karakteristik kepribadian sebagai berikut:
1. Berakal
2. Berakhlak mulia
3. Bertakwa
4. Berpegang teguh pada Al Quran dan As Sunah.

Hak-hak Ukhuwah 

Dalam Islam hak-hak ukhuwah diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Membantu dengan dana
2. Membantu saudaranya memenuhi kebutuhannya, mengutamakan saudaranya.
3. Menjaga lisan dengan tidak membeberkan aib saudaranya baik sepengetahuan maupun tanpa sepengetahuannya, tidak membongkar seluruh rahasianya, dan tidak berusaha mengetahui rahasia-rahasia saudaranya.
4. Memberikan sesuatu yang dicintai saudaranya dari lisannya dengan memanggil dengan nama yang paling dia sukai, menyebutkan kebaikannya tanpa sepengetahuannya atau didepannya, menyampaikan pujian orang kepadanya sebagai bentuk keirian kepadanya dsb.\
5. Memaafkan kesalahanya, menutupi aibnya, dan berbaik sangka kepadanya.
6. Memiliki hak ukhuwah dengan mengokohkan dan mempertahankan perjanjiannya dsb.
7. Tidak menyuruh saudaranya mengerkajan sesuatu yang tidak mampu dilakukannya atau tidak disenanginya.
8. Mendoakan saudaranya, anak-anaknya, dan orang-rang yang terkait dengannya.

Sumber Kutipan:

Wa Islama Buletin Dakwah. Edisi 24/ XXVII
 

Advertisement

Fitnah Syubat dan Syahwat

Fitnah Syubat dan Syahwat

"Orang yang bijak adalah orang yang mampu menundukan hawa nafsunya, menginstropeksi dirinya, dan beramal untuk menjadi bekal setelah matinya. Sedangkan orang yang lemah adalah yang menuruti hawa nafsunya lalu berangan-angan agar Allah (mengampuni dosa-dosanya)." (H.R Ahmad At-Tarmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, Shahih).


Kalau kita cermati sebagai seorang muslim yang menjalani kehidupan yang sementara di dunia ini, ada beberapa aral yang melintang dihadapan kita yang menjadi penghalang bagi kita untuk menapaki fitrah kita yang suci. Kalau kita tidak waspada, perintang-perintang ini akan menggerogoti dan mengikis habis iman kita atau paling tidak akan membuat iman kita menjadi labil, keruh, dan tidak murni lagi akibat noda-noda dan racun yang ditebarkannya. Perintang-perintang ini sangat beragaram dan banyak sekali, namun menurut Imam Ibnu 'Izz Al-Hanafi kesemuanya itu bermuara pada dua hal yaitu: Syubat dan Syahwat.

Perintang Pertama adalah Fitnah Syubat

Menurut Imam Ibnu Qayyun Al-Jauziyah penyebab fitnah ini adalah lantaran lemahnya iman seseorang dan sedikitnya ilmu yang dimilikinya disamping niat yang rusak dan gelora mengikuti hawa nafsu yang membara dalam jiwanya (Ighatsul Lahfab 2/584). Fitnah ini lebih berbahaya jika dibandingkan dengan fitnah syahwat, karena fitnah ini dikemas oleh penebar-penebarnya dengan nama Islam, berlabelkan syariat dan menggunakan dalil-dalil dari Al Quran dan As Sunah untuk mengukuhkan dan membuat orang tertarik, terpukau, dan terpesona dengan lontaran-lontaran pemikiran yang mereka gulirkan hingga merekapun akhirnya tidak segan-segan untuk mengikuti alur pemikiran yang menyimpang tersebut.

Fitnah Syubat ini meliputi berbagai bidang garap, diantarnya : pertama bidang aqidah, merupakan sumber kekuatan keimanan seorang muslim, dari kekuatan aqidah inilah muncul semangat dalam jiwa seseorang untuk mengaplikasikan bentuk-bentuk ibadah yang disyariatkan Allah kepada manusia. Oleh karenanya kemurnian aqidah merupakan hal yang sangat menetukan bagi diterima atau tidaknya suatu amalan.

Allah tidak akan menerima amal seseorang yang aqidahnya menyimpang karena terkena fitnah syubat dan diantara contoh fitnah syubat yang paling bahaya di dibadang aqidah adalah fitnah kemusyrikan. Sisi lain yang termasuk dalam fitnah syubat dibidang aqidah adalah menjamurnya aliran-aliran keagamaan yang menyimpang dari aqidah yang benar, seperti Mu'taziah, Khawarij, Syiah, Qadariyah, Jabariyah, Jahmiyah dan aliran menyimpang yang lainnya. Masing-masing aliran agama menyimpang ini memandang bahwa aliran dan kelompok merekalah yang paling benar, sementara kelompok selain mereka adalah kelompok sesat, untuk membenarkan ajaran mereka, merekapun mengadopsi dalil dari Al Quran dan As Sunah kemudian mencocokannya dengan pemikiran dan hawa nafsu mereka, apabila cocok mereka teruskan dan apabila tidak sesuai dengan pemikiran dan hawa nafsu mereka, mereka campakkan dan mereka singkirkan jauh-jauh.

Fitnah syubat yang kedua adalah fitnah syubat dalam bidang ibadah

Fitnah itu tidak kalah bahayanya dibandingkan dengan fitnah yang pertama, karena fitnah ini akan menjerumuskan pelakunya ke jurang kesesatan. Pengertian fitnah syubat dalam bidang ibadah adalah melakukan bentuk-bentuk ibadah tertentu yang sebenarnya tidak ada tuntunannya dari Rasululloh SAW lalu menyatakan bahwa hal itu adalah sunnah. Ringkasnya, fitnah syubat adalah bid'ah. Oleh karenanya, fitnah syubat dalam bentuk ini lebih disukai oleh iblis dari pada perbuatan maksiat yang dilakukan oleh seseorang.

Memang, lantaran pelakunya merasa tidak bersalah, maka ia merasa tidak perlu untuk bertaubat dariNya. Bahkan justru sebaliknya, ia akan tetap melaksanakan amalan tersebut terus menerus, berangkat dari keyakinannya akan kebenaran amalan tersebut. Satu hal yang perlu kita ingat, bahwa semakin seseorang itu bersungguh-sungguh dalam melaksanakan amalan yang bid'ah tersebut, maka Allah SWT akan semakin jauh darinya.

Adapun jenis fitnah yang kedua adalah fitnah syahwat

Pengertiannya adalah segala perbuatan yang dapat mengikis, menggerogoti dan melemahkan iman seseorang yang berasal dari hawa nafsu. Nama lain dari fitnah itu adalah maksiat. Fitnah ini juga amat berbahaya, lantaran dapat merusak iman seseorang, seperti yang dituturkan oleh Imam Al-Bukhori dan lainnya, bahwa iman itu bisa meningkat apabila melakukan ketaatan dan berkurang lantaran melakukan kemaksiatan. Oleh karenanya, para staf mengajak kita untuk berhati-hati terhadap hal ini. Orang yang terkena fitnah syahwat cenderung malas untuk beribadah, bahkan dalam kondisi imannya kritis ia tidak segan-segan untuk meninggalkan perintah Allah dan melanggar laranganNya. 

Fitnah syahwat ini bermacam-macam bentuk dan jenisnya, diantaranya sebagaimana disebutkan Allah dalam firmanNya: "Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada syahwat berupa wanita, anak-anak, harta kekayaan melimpah dari jenis emas, perak, kuda peliharaan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia ini. Dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (syurga)." (Ali Imran: 14). Janganlah kita terperdaya oleh hal-hal tersebut diatas, namun upayakanlah agar keberadaan mereka tidak melalaikan kita dari mengingat Allah bahkan sebagai pendorong untuk lebih meningkatkan prestasi ibadah yang kita lakukan.

Sumber kutipan: Risalah Jum'at diterbitkan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY.

Diciptakan dengan Kelebihan yang Sempurna

Diciptakan dengan Kelebihan yang Sempurna

Manusia itu Makhluq Mulia

 

Banyak kalangan terpelajar muslim terlanjur setuju dengan penggambaran manusia sebagi hewan yang berakhlaq. Padahal rumusan seperti itu tumbuh dari filsafat Barat yang tidak Islami, dengan rumusan ini lahirlah teori- teori lain di bidang filsafat, sosiologi, dan psikologi yang pada prinsipnya menekankan segi kehewanan manusia.

Teori psikologi yang menyatakan bahwa usia 40 tahun adalah masa puber ke dua bagi kaum lelaki adalah sebuah contoh. Teori yang berdasarkan atas psikoanalisa Freud yang sangat menekankan masalah libido (birahi) ini pada hakekatnya sekedar pelampiasan nafsu syaithan manusia. Mengatakan 40 tahun adalah puber kedua, yang ingin diraih sebenarnya adalah legitimasi atas tingkah penyelewengan umat manusia. Dengan teori diatas, perbuatan maksiat seksual kaum lelaki menjadi dianggap wajar dan ilmiah. Padahal dalam Al Quran dengan tegas merumuskan, bahwa manusia itu adalah makhluk yang Allah ciptakan dalam sebaik-baik penciptaan. Sepanjang manusia memelihara unsur-unsur di mana ia jadi makhluk termulia itu, tetaplah ia berada pada derajat ahsanut-taqwim. Namun, apabila menyeleweng dari tuntunan Allah SWT, maka ia meluncur pada kategori asfala safilin (sejelek-jelek dan serendah-rendah kedudukan).

Ada beberapa aspek yang menempatkan manusia pada derajat ahsanut-taqwim. Pertama, menyangkut aspek bahan baku penciptaan manusia. Kedua, soal tugas dan esensi penciptaan manusia di muka bumi. Ketiga, soal peran dan fungsi yang mesti dilakukan oleh manusia. Bahan baku menurut Al-Quran terdiri dari aspek jasad dan ruh. Aspek jasad yang diambil dari unsur bumi, melambangkan segala kerendahan dan ketamakan pada dunia. Sementara aspek ruh yang diambil dari unsur langit mengisyaratkan ketinggian, kesucian, dan kemuliaan. Manusia yang sukses di sisi Allah adalah mereka yang mampu menempatkan ruh nya sebagai pengontrol kehendak duniawinya.

Misi Universal Manusia

Adapun tugas dan kewajiban manusia di bumi, tidak lain kecuali mengabdi (beribadah) hanya kepada Allah SWT. Itulah tugas utama yang mesti diemban manusia. Pengertian dari beribadah adalah menjadi seluruh aspek kehidupan sebagai pengabdian kepada Allah. Pengertian Ibadah secara tuntas digambarkan Al Anam 162- 163: "Katakanlah sesungguhnya shalatku, perbuatanku, penggunaan waktuku, dan akhir ajalku adalah bagi Allah SWT tidak ada sekutu bagiNya, dan dengan itulah aku diperintah. Dan aku adalah orang yang mula-mula Muslim (tunduk, taat, patuh)". (QS Al An'am 6, 162-163).

Adapun fungsi manusia adalah sebagai khalifah di muka bumi. Makna khalifah yang lain adalah pemelihara, pengelola, dan pemakmur bumi. Dengan demikian, manusia harus berusaha sekuat tenaga dan fikiran untuk melaksanakan misi kekhalifahannya itu.

Ada dua tugas pokok khalifah yaitu pemelihara dan pemakmur. Manifestasi dari kedua tugas tersebut adalah "yaitu orang-orang yang apabila kami teguhkan kedudukanya di muka bumi, mendirikan shalat, membayar zakat, menyuruh yang ma'ruf, dan mencegah munkar. Dan bagi Allahlah akhir putusan segala urusan." (QS. Al Hajj 22, 41).

Dalam rangka keduanyalah manusia wajib berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan tugas yang dipikulnya dengan baik, tugas Allah yang di emban manusia setelah langit, bumi, dan makhluk lainnya tak kuasa memikulnya. "Dan telah kami ajukan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung suatu amanat, tetapi mereka tak kuasa untuk menerimanya dan merasa berat untuk melaksanakannya. Maka diembanlah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu makhluk yang dzalim dan bodoh". (QS. Al Ahzab 33, 72).

Itulah fungsi kekhalifahan manusia, di satu sisi merupakan kedudukan mulia, di satu sisi merupakan ujian Allah. Ujian untuk menilai siapa hamba-hambaNya yang benar-benar beramal sesuai dengan petunjukNya lalu siapa yang telah menyelewengkan perannya. Mereka berkhianat disebut Allah dengan ungkapan dzalim dan bodoh. Adapun manusia-manusia yang sukses memerankan kedua fungsi tersebut, itulah sebaik-baik manusia di hadapan Allah SWT. Merekalah yang berhasil mendapat ridhaNya. Di akhirat mereka akan dijauhkan dari neraka, dan dimasukkan surga. 

Manusia Berperilaku Hewan

Allah menggelari manusia yang menyimpang dari tugas dan fungsinya dengan kecaman yang pedas. Di antara mereka ada yang disebut sebagai binatang ternak (Al Anam), "Dan kami telah sediakan bagi isi jahannam itu dari kebanyakan jin dan manusia. mereka mempunyai hati tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah SWT, mereka punya mata tetapi tidak digunakan untuk melihat kekuasaan Allah, mereka punya telinga tetapi tidak dipakai untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti hewan ternak. Bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah kaum yang lalai. (QS. Al Araf 7, 179).

Serakus- rakusnya hewan ternak, ia tidak pernah memakan sesuatu melebihi kebutuhan sendiri. Meski rakus, hewan ternak masih berguna untuk sembelihan, korban, dsb. Sementara manusia? tidak cukup sekedar memenuhi kebutuhan diri, bahkan hingga kebutuhan anak cucunya selama tujuh turunan. Dia tidak peduli harus menipu, memeras, menindas, dan menganiaya sesama untuk meraihnya.

sumber kutipan: Buletin Dakwah Wa Islama

SEKULERISME PANGKAL KERUSAKAN

SEKULERISME PANGKAL KERUSAKAN



Dalam kunjunganya ke Barus Sumatera Utara Presiden Jokowi berpesan kepada masyarakat agar tidak mencampuradukan persoalan politik dengan agama, demi mencegah perdebatan antar umat beragama. "Inilah yang harus kita hindarkan, jangan sampai dicampuradukan antara politik dan agama. Dipisah betul sehingga rakyat tahu mana yang agam, mana yang politik", kata Jokowi (Antaranews dalam buletin Al Islam).

Ungkapan yang dilontarkan oleh bapak Jokowi mendapat kritikan tajam dari berbagai kalangan. Pidatonya telah dianggap mempertegas prinsip sekulerisme di Indonesia. Rais Aam (PBNU), KH Ma'ruf Amin, menjelaskan, "Agama dan politik itu kan saling memperngaruhi. Politik kebangsaan itu kan juga harus memperoleh pembenaran dari agama. Kalau tidak, bagaimana?" ujarnya saat menghadiri Refleksi Kebangsaan 71 Tahun Muslimat NU di Hotel Crowne Plaza, JAKSEL, 27 Maret (Tribunnews dalam Al Islam).

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Amien Rais, MA, juga menanggapi, "itu kata-kata seseorang yang tidak paham pancasila," katanya usai menjadi pembicaraan dalam Tabligh Akbar di PP Muhammadiyah, Menteng, JAKPUS, Ahad 26 Maret.


Sejarah Sekulerisme

Gagasan sekulerisme (pemisahan antara agama dan politik) pertama kali muncul di Barat sebagai kritikan terhadap dominasi Gereja pada Abad pertengan. Ketika itu Gereja Kristen menjadi institusi dominan, dengan / pembentukan sistem kepausan oleh Gregory 1, Paus dijadikan sumber kekuasaan agama dan kekuasaan dunia dengan otoritas mutlak tanpa batas dalam seluruh sendi kehidupan, khususnya politik, sosial, dan pemikiran. Dominasi ini ternyata penuh dengan penyimpangan dan penindasan melalui persengkokolan Gereja dan raja/ kaisar, mengakibatkan kemandegan ilmu pengetahuan dan merajalelanya surat pengampunan dosa.

Sekulerisme di Indonesia

Sekulerisme masuk ke Indonesia secara paksa melalui proses penjajahan oleh Hindia Belanda. Prinsip negara sekuler telah termaktub dalam Undang-Undang Belanda tahun 1855 ayat 119 yang menyatakan, bahwa pemerintah bersikap netral terhadap agama, artinya tidak memihak salah satu agama atau mencampuri urusan agama (Suminto, 1986).

Prinsip sekular dapat ditelusur pula dari rekomendasi Snouck Hurgonje kepada Pemerintah Kolonial untuk melakukan Islam Politik, yaitu kebijakan Pemerintah Kolonial dalam menangani masalah Islam di Indonesia. Proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945 seharusnya menjadi momentum untuk menghapus penjajahan secara total, termasuk mencabut pemikiran sekular yang ditanamkan penjajah. Sayang sekali, ini tidak terjadi. Revolusi kemerdekaan Indonesia hanyalah mengganti rezim penguasa, bukan mengganti sistem atau ideologi penjajah. Pemerintah memang berganti, tapi ideologi tetap sekular, karena itu sejak awal Indonesia adalah negara sekuler. Alhasil, gagasan sekulerisme seperti yang disampaikan Pak Jokowi tak lain sekadar mengekor ke peradaban Barat, mengikuti dan melanggengkan arahan penjajah.

Sekulerisme Pangkal Kerusakan

Sebagai warisan dari Barat, sekulerisme merupakan paham yang rusak karena jelas-jelas menolak peran agama (Islam) dalam pengaturan kehidupan, khususnya politik. Di bidang politik, sekulerisme merusak karena melenyapkan aspek spiritual dalam politik dan hanya menonjolkan pertimbangan materi. Akibatnya, kekuasaan pun hanya dijadikan alat untuk meraih keuntungan materi, bukan untuk melayani kepentingan rakyat dan mewujudkan kemaslahatan mereka, sebagaimana yang Ialam perintahkan.

Islam Rahmatun Lil'alamin

Keburukan sekulerisme semestinya melahirkan kesadaran pada umat Islam akan keindahan ajaran Islam. Islam rahmatun lil'alamin. Islam melahirkan sistem politik yang benar, yaitu sistem politik yang berdasarkan syariah. Sistem politik Islam dibangun di atas dasar akidah Islamiyah sehingga berbagai aturannya akan bersifat spiritual, yaitu terkait dengan Allah SWT, terkait dengan pahala dan dosa. Sistem yang demikian akan menentukan makna kebanggaan hakiki bagi individu.

Wahai kaum Muslimin

Sungguh tak mungkin Islam dapat berdampingan dengan sekulerisme. Sekulerisme menciptakan kerusakan serta menyuburkan kemaksiatan dan pelanggaran terhadap aturan Allah SWT. Sebaliknya, Islam menebarkan rahmat bagi semesta alam, karena itu pantas jika Allah SWT berfirman:

Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al- Maidah 50).

Karena itu, saatnya kita mencapkkan sekulerisme, lalu kita ganti dengan akidah dan syariah Islam.

Daftar Pustaka.

Al Islam. 2017. Sekulerisme Pangkal Kerusakan. Buletin Dakwah.


Penyakit Orang Beriman (Tafrith)

Penyakit Orang Beriman (Tafrith)

Pengertian


Satu-satunya kekuatan asasi dari pasukan Sulthan Muhammad II Khan bin Murad Al Fatih adalah kekokohan iman mereka. Lurusnya pemahaman aqidah dan kekuatan aqidah pasukan Sultan Muhammad II Khan bin Murad Al Fatih senantiasa dijaga oleh taujih dan arahan dari para ulama yang didatangkan Sultan di setiap medan tempur di setiap saat. Dengan modal keyakinan dan kekuatan aqidah itulah mereka mampu menjaga dan menjalani ibadah yang konsisten seperti shalat fardhu selalu berjamaah, puasa, dan qiyamul-lail (shalat malam). Oleh sebab itu, aspek inilah juga yang menjadi kelemahan apabila tidak dijaga dan dipupuk terus akan menimbulkan penyakit kronis dan ganas yang akan menyerang kaum beriman yaitu tafrith.

Apa itu tafrith? adalah mengurangi atau menghilangkan sebagian perkara sehingga tidak lagi menjadi utuh. Oleh sebab itu bermohonlah ampunan kepada Allah SWT. Berserah dirilah kepada-Nya dengan sepenuh kepasrahan sebagai pertanda rasa takut sekaligus harap kita kepada Allah SWT, karena perilaku kita suka mengurang-ngurangkan pelaksanaan kewajiban ibadah kita. Kewajiban kita memang tidak sedikit, tetapi juga tidak berarti sulit dilakukan. Hendaklah kita berada dalam kondisi bersemangat untuk melakukan kewajiban ibadah kita walaupun tidak sempurna kita menjalankannya.

Kewajiban ibadah disini tidak hanya melulu kewajiban ibadah mudhah, tetapi ibadah secara umum termasuk kewajiban menafkahi keluarga bagi para suami misalnya. Jadi kewajiban disini mencakup kewajiban duniawi maupun akhirat. Dalam konteks ibadah secara luas berarti mengurang-ngurangkan kewajiban kehidupan sehingga tidak terlaksana dengan semestinya. Contoh para penuntut ilmu yang kacau dalam memenej waktu dimana seharusnya alokasi waktu sedikit tetapi malah diberi alokasi waktu yang begitu lama yaitu dengan bermain ataupun menghibur diri.

Sebab Musababnya
Seorang atau sekelompok yang mengurangkan kewajiban ibadah disebabkan antara lain:

1. Perbuatan tidak terpuji
Sebenarnya manusia memang tidak akan pernah luput dari kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja ataupun besar kecil. Namun manusia pada umumnya menganggap remeh perkara kesalahan kecil dan dosa kecil. Padahal itulah penyebab tafrith.

2. Memperluas perkara-perkara yang mubah
Memperluas hal-hal yang mubah seperti makan,minum, tidur, berpakaian, bersolek, dll adalah penyebab tafrith juga. Hal-hal mubah yang diperluas atau ditunaikan secara berlebihan akan menghasilkan kemandegan. Makan misalnya adalah hal mubah, tetapi berlebihan menimbulkan kemalasan berbuat taat.

3. Tak menghargai besarnya Anugerah
Anugerah dan nikmat yang diberikan Allah SWT kepada manusia sungguh tak terhingga banyaknya maupun jenisnya. Seseorang yang tidak mampu menghargai dan mensyukuri nikmat dan besarnya anugerah yang sudah diterima, maka muncul dalam dirinya keengganan melakukan ketaatan sehingga akhirnya tumbuh penyakit tafrith dalam dirinya. Sementara itu bagi sosok yang mencukupkan dirinya dengan pemberian Allah SWT maka ia akan mengikuti kenikmatan Allah SWT tersebut dengan konsisten dan disiplin mengerjakan ibadah sebagai bentuk rasa syukut atas nikmat yang telah diterima dan penghormatanya kepada Allah SWT.

Sebagian Jalan Keluar dari Tafrith 

Rasulullah bersabda menasehati Ibnu Abbas Ra, "Wahai Ibnu Abbas, Aku hendak mengajarkan kepadamu tentang beberapa kalimat: Penuhilah perintah Allah, niscaya Allah akan menjagamu; tunaikanlah kewajibanmu terhadap Allah maka engkau akan dapatkan bahwa Dia berada didepanmu; bila engkau meminta, memintalah kepada Allah; apabila memohon, memohonlah kepada Allah; Ketahuilah andaikata semua manusia bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu mereka tidak akan mampu kecuali telah dituliskan oleh Allah bagimu. Seandainya mereka hendak bersekutu untuk merugikanmu, maka mereka tidak akan mampu kecuali bahaya itu telah dituliskan Allah bagimu. Pena telah diangkat dan lembar kitab telah ditutup".

Daftar pustaka
DR. Sayyid Muhammad Nuh, Terapi Mental Aktifis Harakah. 1993. Solo: CV Pustaka Mantiq (dalam Buletin Da'wah Wa Islama)

Cara Mudah Melihat Ranking Blog/Website

Cara Mudah Melihat Ranking Blog/Website

Setiap blogger atau mayoritas blogger ataupun minoritas blogger pasti pengen ngerti global rank dan juga ranking di Indonesia sendiri kan? Nah kali ini ane akan share cara yang ane temukan buat lihat rangking berapa yang akan kita dapatkan, mari tengok, chek it below!!!

Mari kita mulai tutorialnya:

1. Pertama buka website penunjangnya, bisa klik disini

Kira-kira seperti ini untuk tampilan home 

2. Masukkan alamat URL Blog/ Website ente dan klik Find a site















3. Setelah klik Find a site, munculah informasi blog/website ente




4. Ada beberapa informasi yg ditampilkan seperti gambar dibawah ini, ane contohin dengan blog Avec Dakwah ini. Empat informasi yang ditampilkan yaitu: Site overview, Traffic graph, Server location, dan Domain name information.






NB: Ada informasi yg ane kira ada yg gak sesuai yaitu di server location, dan domain name information sedikit berbeda, mungkin pengaturan blog ane ada yg salah juga. Itu hanya percobaan yang ane buat dengan blog ane sendiri. Maafkan jika rangkingnya masih jauh jauh bangettt diatas rata-rata hehe.

Gimana dengan blog/ website ente-ente sekalian?, bisa tinggalkan komen di artikel ini jika udah di coba yah? Jangan lupa share bila artikel ini sedikit bermanfaat :)


Ajaran Islam, Bukan Kejahatan!

Ajaran Islam, Bukan Kejahatan!


Perbincangan tentang ISIS dan khilafah menghangat di media massa dan masyarakat pada tahun 2014 kemarin. Pemicunya diakibatkan dari video yang di unggah ke Youtube, video tersebut berisi seruan ISIS dari Indonesia kepada umat Islam di Indonesia untuk diajak bergabung dengan organisasi tersebut. Isu tentang ISIS pun bergulir, banyak pihak berkomentar, pemerintah meminta masyarakat mewaspadai dan mencegah organisasi tersebut berkembang. Kelompok sekuler memanfaatkan isu itu untuk memukul apa yang mereka katakan sebagai paham radikal.

Sikap Proporsional
Bagi pihak yang tidak suka terhadap Islam, isu ISIS dijadikan kesempatan untuk menjauhkan dari ide khilafah. Mereka kemudian menyimpangkan konsep khilafah dan melakukan 'mosterisasi' khilafah. Mereka berupaya menanamkan rasa ketakutan atau paling tidak ketidakmauan terhadap ide khilafah. Caranya dengan mengaitkan isu tersebut dengan terorisme, aksi kekerasan, dan kejahatan. Mereka pun melekatkan keburukan pada ide khilafah. Isu ISIS di Indonesia dan ide khilafah yang terus diulang-ulang tanpa disertai penjelasan memadai tentu bisa menjadi bagian dari upaya 'monsterisasi' tersebut.

Khilafah: Ajaran Islam
Khilafah adalah ide Islam, karena itu khilafah harus didukung oleh umat. Khilafah bersumber dari Alquran, Assunah, Ijmak sahabat, dan Qiyas. Dalam Islam , khilafah merupakan perkara (telah dimaklumi sebagai bagian penting dari ajaran Islam).
Khilafah adalah kepemimpinan umum atas seluruh kaum muslim di dunia guna menerapkan syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Pengertian ini sekaligus menjelaskan muatan dari khilafah yakni: ukhuwah, syariah, dan dakwah. Ukhuwah artinya persatuan umat Islam seluruh dunia. Syariah artinya penerapan syariah Islam secara kaffa (menyeluruh). Dakwah artinya penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Tiga muatan inilah yang terangkum dalam kata khilafah, karena itu khilafah sebagai ajaran Islam harus didukung oleh umat Islam.
Kewajiban menegakan khilafah
Kita telah diperintah untuk taat kepada Allah SWT dan melaksanakan syariahNya secara keseluruhan tanpa pilih-pilih. Kewajiban melaksanakan seluruh kewajiban kaum muslim untuk mengangkat imam (khalifah) dan menegakan khilafah.

Harus mengikuti Manhaj Kenabian
Khilafah yang dikehendaki oleh syariah itu adalah khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Islam telah menjelaskan metode pelaksanaan berbagai kewajiban, salah satunya kewajiban menegakkan khilafah ini. Menegakan khilafah juga harus terikat dengan metode yang telah dijelaskan oleh Muhammad SAW.
Diantara ketentuan metode itu adalah bahwa negeri tempat khilafah detegakkan haruslah memenuhi empat kriteria:
1. Kekuasaan di wilayah itu haruslah otonom bersandar kepada kaum muslim.
2. Keamananya harus terjamin dengan keamanan kaum muslim. Perlindungan di dalam dan luar negeri harus pula dalam perlindungan Islam, berasal dari kekuatan kaum muslim sebagai kekuatan Islam saja.
3. Orang yang dibaiat menjadi khilafah harus memenuhi syarat legal.
4. Segera secara langsung menerapkan syariah Islam secara keseluruhan dan mengemban dakwah Islam. Artinya, khilafah yang dibaiat itu harus berada detengah-tengah rakyat, memelihara urusan mereka, menyelesaikan problem mereka, serta melaksanakan tugas pemerintahan dan ri'ayah seluruhnya sebagaimana yang disyaratkan.
Keempat kriteria itu belum terpenuhi pada khilafah yang telah diklaim deklarasinya oleh ISIS, karena itu khilafah ala ISIS tidak bisa dianggap sebagai khilafah yang syar'i. Konsekuensinya, semua hak dan kewajiban syar'i terkait khilafah itu juga belum bisa direalisasi dan artinya khilafah yang syar'i belum terwujud.


Sumber: Buletin Dakwah AL ISLAM 
Website: www.hizbut-tahrir.or.id

Menjadi Santun dan Bijak

Menjadi Santun dan Bijak

Ada beberapa penggalan ayat yang menggambarkan/ menceritakan santun dan bijak :


Umar bin Khathab Ra berkata, "kemuliaan dunia dapat diraih dengan harta. kemuliaan akhirat hanya dapat diraih dengan 'amal shalih."

Dinukil dari Syaikh "Abdul Mu'thl As-Samlawi, bahwa nabi Muhammad SAW pernah berkata kepada Jibril As, "Gambarkanlah kepadaku tentang kebaikan-kabaikan 'Umar."

Jibril menjawab, "Apabila samudera menjadi tinta dan seluruh pepohonan menjadi pena-nya, maka aku tidak dapat menghitung kebaikannya."

Nabi Muhammad SAW berkata lagi, "Gambarkanlah kepadaku tentang kebaikan-kebaikan Abu Bakar."

Jibril menjawab, "Umar adalah salah satu gambaran dari semua gambaran kebaikan Abu Bakar."  


(Referensi: Buletin dakwah Wa Islama)

Kemerdekaan adalah Hak Asazi setiap Orang

Kemerdekaan adalah Hak Asazi setiap Orang


"Agar Allah menetapkan yang haq(Islam) dan membatalkan yang bathil walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukai."(TQS. Al Anfaal 8,8) Kemerdekaan yang mana?

Kemerdekaan merupakan hak asasi bagi setiap insan. Merdeka berarti tidak terikat oleh aturan yang membelenggu. Seorang yang merdeka berarti hanya terikat oleh aturan Allah Swt semata. Ketaatan dan loyalitasnya untuk Allah ta'ala, sehingga dirinya terbebas dari penyembahan dan penghambatan pada sesama manusia.

Luruskanlah Aku! adalah kemerdekaan 

Ingatlah pula kisah khalifah Abu Bakar Ra, ketika  
khutbah yang pertama kali ia ucapkan, "Aku diangkat menjadi penguasa atas kalian, padahal aku bukanlah yang terbaik diantara kalian. maka jika diantara kalian melihatku berbuat kesalahan, luruskanlah aku, patuhilah aku selama aku masih dijalan Allah. Tapi jika aku mendurhakai Allah tiada keharusan kalian untuk mematuhiku." Abu Bakar Ra, terkenal rendah hati, ketika ada orang yang menyapa dengan "Hai khalifah Allah"  ia menyahutnya dengan "Aku ini hanya khalifah rasul Allah". Abu Bakar khawatir jika orang salah tafsir. Dalam kisah lain, ketika Umar bin Khattab Ra, diangkat menjadi khalifah, berpidato, "Wahai kaum muslimin ! Apabila diantara kalian ada yang melihatku dalam keadaan bengkok maka luruskanlah." Salah seorang dari mereka berdiri seraya berkata "Kami akan meluruskannya dengan pedang". "Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang menjadikan kaum muslimin orang yang meluruskan Umar dengan mata pedangnya."

Abu Bakar Ra, maupun Umar Ra, memiliki kepribadian yang merdeka, mereka tidak diperbudak oleh jabatannya sebagai khalifah. Kedudukan yang diamanahkan kepada mereka tidak membuatnya lupa diri.
Dari beberapa kisah ini dapat kita ambil ibrahnya akan makna dari sebuah kemerdekaan. Bahwasannya kita dikatakan merdeka manakala tidak ada yang memperbudak diri ini. Hanya Allah semata yang berhak ditakuti dan ditaati. Jadilah seorang muslim yang memiliki pribadi yang merdeka, yaitu kepribadian yang hanya mengikatkan diri dan bertawakkal kepada Allah ta'ala.

Merdeka itu memurnikan ketaatan

Dalam kisah nabi Ibrahim As, terdapat teladan yang baik, yaitu ketika ia berkata "Sesunggunhnya kami berlepas diri dari kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkarimu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja," (TQS. Al mumtanah). Hal ini menunjukan, bahwa sesungguhnya telah nyata perbedaan antara orang yang menyembah Allah semata dengan penyembah selainNya. Sikap seorang muslim adalah berlepas diri. Artinya di dalam diri ini ada i'tikad untuk tidak masuk ke dalam golongannya, membenci dan menjauhi serta mensikapinya sebagai musuh yang harus diwaspadai. Itulah sikap yang sebenarnya terhadap pengingkar Allah. Mereka adalah orang-orang yang terbelenggu dalam sesembah selain Allah yang sesungguhnya itu hanyalah adat dari bapak-bapak mereka.

Mengingat Maut dan Ajal

Mengingat Maut dan Ajal

"Dimana saja kalian berada, kematian akan menjumpai kalian kendati kalian berada pada benteng yang tinggi lagi kokoh" (TQS. An-nisa 4, 78)

1. Mengenal "Maut" atau "Ajal"
      Secara bahasa, kata maut berasal dari bahasa Arab yang berati mati, meninggal dunia". Bagaimana dengan "Ajal" secara bahasa kata Ajal berati akhir waktu pada kematian.
2. Ketetapan Allah 'Azza wa Jalla
      Imam al-Ghazali menjelaskan lebih jauh, "perubahan orang yang meninggal dunia terbagi pada dua segi yaitu:
Pertama dicabut atau dihilangkan seluruh anggota badannya. Begitu pula dicabut darinya anggota keluarga, kerabat, dan seluruh kenalannya di dunia.
Kedua, akan nampak baginya setelah meniggal dunia hal-hal yang tidak ia lihat dalam kehidupannya di dunia, sebagaimana halnya orang yang bangun dari tidurnya akan melihat hal-hal yang tidak nampak baginya tatkala dalam tidur".
      Kematian dalam segala bentuknya adalah milik Allah Swt. Setiap makhluk akan mendapatinya termasuk manusia. Al-Quran menyatakan secara pasti bahwa Allah swt telah menetapkan ajal bagi tiap tiap anggota kelompoknya. Apabila orang berusaha keras untuk menghindari kematian, sekuat apapun, maka perlindungannya itu tidak dapat menghindarkannya dari maut.
3. Manusia Saat Menghadapi Maut
       Manusia keadaannya berbeda-beda saat menghadapi maut, kesiapan manusia itu tergantung pada keimanan dan taqwanya kepada Allah Swt. Oleh karena itu, para ulama membagi tingkatan manusia dalam menghadapi maut menjadi tiga golongan.

Pertama, kelompok manusia yang dinamakan "hubbudunnya" (pecinta dunia) yakni mereka yang sangat cinta dunia. Oleh sebab itu  mereka enggan meninggalkan dunia yang sementara ini, dengan kecintaannya yang sangat tinggi dan mendalam terhadap kemegahan kekayaan sementara ia juga tahu bahwa tidak satupun yang di bawa ke akhirat, itulah sumber ketakutannya.

Kedua, kelompok manusia "at-taibu" (orang yang bertaubat) yakni orang yang beriman, selalu bertaubat, ingat maut, dan menyesali perbauatan yang selah. Kelompok ini adalah kelompok yang selalu merasa tidak siap menghadapi kematian. Bagi mereka belum sempurna bekal yang akan dibawa ke akhirat. Oleh karena itu mereka selau menghindari segala bentuk dosa dan maksiat.

Ketiga, kelompok "al-Aarifuuna" (orang yang arif terhadap Allah) yakni mereka selalu tahu secara dekat akan Allah Swt. Ini adalah kelompok orang yang selalu ingat akan kematian dan ingin kematian itu datang menjemputnya. Dia rindu kepada Allah Swt dan ingin bertemu denganNya.

Assalamu’alaikum Tetangga !!

Assalamu’alaikum Tetangga !!


“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Kemudian, maka jangan mengganggu tetangganya” (THR Bukhari Muslim).

Berbuat baik kepada tetangga merupakan salah satu parameter keimanan yang sering kali dilupakan para aktivis dakwah. Memuliakan tetangga merupakan salah satu indikasi adanya keimanan dalam qalbu seorang Muslim. Rasulullah telah berpesan, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan tetangganya” (THR Muslim).
Demikian pula sebaliknya, apabila seorang mengaku Muslim tetapi akhlaknya buruk terhadap tetangga, maka ada cacat dalam qalbunya yang mengurangi kesempurnaan iman. Rasululllah bersabda, “Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman! “
Sahabat bertanya, “Siapakah yang tidak beriman ya Rasulullah ? “ Jawab Nabi  SAW, “Orang yang menjadikan tetangganya merasa tidak aman dari gangguannya” (THR Bukhari dan Muslim).

Beberapa adab yang baik dengan tetangga, diantaranya:
1. Tegur-sapa, awal pembentukan Akhlaq
Mungkin diantar kita, sebagai seorang muslim, sangat tidak menyukai sesuatu yang sifatnya basa-basi. Padahal tidak semua basa-basi itu hasilnya selalu negatif, karena ada pula yang basa-basi bersifat positif. Misalkan basa-basi didalam bertetangga. Kenapa basa-basi? Kadang kita sadar akhlak yang baik itu belum tertanam dalam diri kita, sehingga merasa kaku dan kikuk apabila melakukan suatu “amal saleh”. Untuk menghilangkan rasa kaku dan kikuk inilah, beretegur sapa diperlukan sebagai latihan awla membentuk sebuah akhlaq yang baik.
“Sebaik-baiknya kamu adalah adalah yang terbaik akhlak budi pekertinya” (THR Bukhori dan Muslim).
Jika kita merasa belum mampu berakhlak mulia, terutama dengan tetangga, ada baiknya
dengan saling sapa. Awalnya terasa formal, tapi InsyaAllah lama-kelamaan akan menyatu dengan karakter kita.
2. Menghafal nama dan memanggil dengan nama akrab
Rasa akrab dengan tetangga bisa dibangun dalam wantu yang tidak lama, apabila kita bisa menghafalkan nama-nama mereka. Bahkan keakraban akan lebih cepat terjalin, apabila kita mengetahui pula silsilah keluarganya, kemudian dalam percakapan kita selalu menanyakan keadaannya. Seoarang bapak akan merasa sangat diperhatikan orang lain, apabila ditanya kabar anaknya, sepupunya atau familinya yang lain, baik ditanya nama meraka.
Lebih ideal lagi bila kita memanggil nama akrab kesukaan mereka, atau nama akrab tradisi setempat. Misalkan tambahan nama lik, kang, dik, pakdhe, budhe, jeng atau yang lainnya. Dan apabila ia mempunyai gelar diwilayahnya, maka kita berusaha menyusaikan diri dalam memanggilnya. Misalkan seorang guru didesa, biasa dipanggil nama pak guru, bukan nama sesungguhnya, maka kita harus bisa menyesuaikan. Sebutan adalah bagian dari penghormatan.
Tetangga akan senanatiasa menganggap kita sebagai makhluk asing apabila kita tidak hafal dengan nama-nama mereka, dan pembicaraan akan menjadi sangat menjengkelkan, apabila kita menanyakan sesuatu yang baru saja ditanyakan. “Bapak namanya siapa, Pak?”  Kemudian tetangga kita menyebutkan namanya. Besok ketika bertemu lagi, kita bertanya dengan pertanyaan serupa, “Bapak namanya siapa, Pak?” Maka pertanyaan seperti ini,  sebenarnya akan menjengkelkan mereka. Apalagi pertanyaan ini senantiasa terulang setiap kali bertemu.

Sebuah kisah dari H.R Muslim

Sebuah kisah dari H.R Muslim

Dari Umar rodhiyallohu’anhu juga, beliau berkata: pada suatu hari ketika kami duduk didekat Rasulullah SAW, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yangt mengenalnya. Kemudian dia duduk dihadapan Nabi SAW, lalu mendempetkan kedua lututnya ke lutut nabi, dan meletakkan kedua tangannya diatas kedua pahanya, kemudian berkata:
                “Wahai Muhammad, terangkanlah aku tentang Islam.”
Kemudian Rasulullah menjawab:
                “Islam yaitu: hendaklah engkau bersaksi tiada sesembahan yang haq disembah kecuali Allah Swt dan sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah. Hendaklah engkau mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan Haji ke rumah Allah Swt jika engkau mampu mengerjakannya.”
Orang itu berkata:
                “Engkau benar”
Kami menjadi heran, karena dia yang bertanya lalu dia pula yang membenarkannya. Orang itu bertanya lagi:
                “Lalu terangkanlah aku tentang Iman”
Rasulullah menjawab:
                “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, beriman kepada para malaikaNya, kitab-kitabNya, para utusanNya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.”
Orang tadi berkata:
                “Engkau benar”
Lalu orang itu bertanya lagi:
                “Lalu terangkanlah aku tentang Ihsan”
Beliau menjawab:
                “Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya. Namun jika engkau tidak dapat melihatNya, sesungguhnya Ia melihat engkau.”
Orang itu berkata lagi:
                “Beritahukan aku tentang hari kiamat.”
Beliau menjawab:
                “Orang yang bertanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.”
Orang itu selanjutnya berkata:
                “Beritahukanlah aku tanda-tandanya.”
Beliau menjawab:
                “Apabila budak melahirkan anak tuannya, dan engkau melihat orang-orang Badui yang bertelanjang kaki, yang miskin lagi penggembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan.”
Kemudian orang itu pergi, sedangkan aku tetap tinggal beberapa saat lamanya. Lalu nabi SAW bersabda:
                “Dia itu adalah malaikat Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.”


Makna Cinta

Makna Cinta



         Cinta dapat dimaknai dalam dua makna. Cinta syahwati dan cinta imani, keduanya memiliki perbedaan dalam landasan kecintaanya.                Cinta syahwati adalah cinta yang timbul mengikuti syahwat yang memiliki kecenderungan menyukai atau menggemari sesuatu yang sangat tinggi dan terus menerus sehingga apapun dilakukan untuknya. Kecintaan ini lebih cenderung kecintaan terhadap kesenangan dunia , dalam sebuah hadits disebutkan:“Cintamu terhadap sesuatu menyebabkan buta dan tuli.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)                Namun ternyata kecintaan ini telah menjadi sifat manusia yang telah Allah ciptakan untuk kita untuk bisa menikmati anugrah kesenangan kehidupan dunia.Allah Swr berfirman:“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu: wanita, harta, anak-anak, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran 3:14)                Itulah anugrah yang Allah berikan, sekarang tinggal bagaimana kita mengelola anugrah itu dengan baik. Bagaimana kita menempatkan posisi yang tepat untuk kecintaan kita terhadap kesenangan dunia ini. Pada saatnya nanti kesenangan ini bisa saja menjadi bagian dari ibadah kita jika mampu mengontrolnya dengan baik. Namun sebaliknya, bisa pula menjerumuskan ke jalan dosa jika kita menurutinya tanpa berlandaskan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, karena bagaimanapun juga dunia ini adalah tempat singgah dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik.Kecintaan yang kedua adalah Cinta imani. Kecintaan ini adalah cinta yang lahir dari ketulusan iman kita kepada Allah Swt, bukan lagi dari keinginan yang mengutamakan unsur-unsur fisik dan naluri untuk bertahan hidup.“Paling kuat tali hubungan keimanan ialah binta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ath-Tabrani)                Dari hadits di atas menunjukan bahwa mencintai sesuatu karena Allah adalah sebagian dari iman dan inilah tali hubungan keimanan yang paling kuat. Sehingga kecintaan imani adalah dasar bagi kita untuk dapat mengontrol cinta syahwati. Perwujudan dari kecintaan ini adalah perbuatan. Orang yang lebih mencintai Allah dibandingkan kecintaanya terhadap dunia, dan mencintai sesuatu karena Allah maka sempurnalah imanya seperti yang disampaikan oleh Rasulallah dalam sebuah hadits:“Barang siapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya.”(HR. Abu Dawud)     

Agar Do’a Dia Perkenankan

Agar Do’a Dia Perkenankan

“....Dan Rabb-mu berfirman, ‘Berdo’alah kepadaKu, niscaya Aku prerkenankan bagimu.”(TQS. Al Mu’min)

                Do’a adalah perbuatan naluriah manusia. Semua manusia punya kecenderungan dan naluri untuk meminta kepada sesuatu yang dianggapnya bisa memberi. Pada saat manusia hanya mengenal benda-benda, karena kebodohannya, ia berdoa kepada benda-benda yang dikaguminya itu. Ummat manusia di zaman Ibrahim As., sebagai contoh rupa-rupanya baru mengenal benda-benda. Mereka membuat patung, dipasang ditempat yang baik lalu dimintai berbagai macam kebutuhan. Dalam diri manusia ada naluri untuk  meminta, karena dia merasakn ada kekurangan. Hati dan akal manusia waktu itu hanya berpikiran serba materi. Mereka meyakini sesuatu yang berbentuk dan nyata. Malahan nabi Ibrahim As., sendiri yang sangt prihatin melihat ulah manusia waktu itu sempat berpikir tentang alam benda-benda. Fenomena alam itu begitu memukaunya: ada bintang, bulan, dan matahari. Namun, adakah zat di balik benda-benda itu ? itulah pertanyaan akal sehat.
“Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang, lalu dia berkata, “Inilah RabbKU!” Tetapi ketika bintang itu tenggelam, dia berkata, “ Aku menyukai yang tenggelam”.
“Kemudian tatkala melihat bulan terbit, dia berkata, “Inikah RabbKU?” Tetapi setelah bulan tenggelam, dia berkata”Sesungguhnya, jika RabbKu tidak memberi petunjuk kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang sesat”.
“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, ia berkata , “Inilah RabbKu, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu terbenam, ia berkata, “Hai kaumku! Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (TQS. Al An’am 6,76-78)
Kesimpulan cerdas yang diungkapkan Ibrahim tersebut berawal dari alam benda-benda. Ia mampu menarik konklusi akan keberadaan zat di luar benda-benda itu. Justru perkara ini yyang tidak tertangkap dengan segera oleh kaumnya. Mereka tetap berdo’a dan meminta kepada benda-benda. Ummat manusia di zaman Rasulullah Saw demikian pula adanya. Patung-patung tak hanya mereka buat dari batu atau kayu, bahkan dari bahan-bahan makanan. Jika mereka telah bosan dengan satu “tuhan” patung makanan itu, maka dimakannya sang “tuhan”. Kemudian dibuatlah “tuhan” yang baru. Sungguh, mereka bersikap tunduk dihadapan patung buatannya sendiri. Dengan segala harap dimintanyalah segala sesuatu kepada benda-benda tal berdaya itu.

Di zaman teknologi saat ini, pada saat manusia lebih pintar membuat “tuhan” dibanding zaman Ibrahim As. Kecenderungan manusia untuk berdo’a tetap ada. Sebagian dari mereka meminta kepada paranormal dan dukun-dukun agar diberi harta yang melimpah, cepat naik pengkat, disenangi atasan, banyak proyek, dan lain sebagainya. Ada juga yang memohon dikabulkan keinginanya kepada Allah Swt juga kepada yang lainnya. Sebagiannya lagi tetap hanya memohon kepada Allah Ta’ala. Dunia serba materi zaman Ibrahim As., memang masih sederhana. Mereka benar-benar hanya melihat kepada benda-benda tradisional : baut dan kayu. Namun, alma serba materi boleh jadi telah menjadi induk bagi ideologi-ideologi yag sempat berkembang dan menyebar di berbagai belahan dunia saat ini. Lihatlah, mereka khusyuk dengan kecanggihan teori dan peralatan yang dibuatnya sendiri.

Tidak Usah Risau dengan Dunia

Tidak Usah Risau dengan Dunia






Mungkin sebahagian besar kaum Muslimin dihinggapi perasaan gamang saat menjalankan ibadah Gamang, karena di satu sisi terdorong untuk bekerja lebih giat dan lebih all out untuk memenuhi kebutuhan. Nah, padahal bekerja lebih keras (dari biasanya) tentu menguras fitalitas fisik. Maka, camkan nasehat Rasulullah Saw berikut ini agar kita dapat bekerja dengan tenang, tidak tergesa-gesa dan tidak panik harus tenang.


Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan membuat baik semua urusannya, menjadikan kekayaannya ada dihatinya, dan dunia akan datang kepadanya dengan mudah. Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan mencerai berai kan urusannya, menjadikan kefakiran ada didepan matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya, kecuali sebatas yang telah ditentukan.” Nah jelas bukann!! Tidak perlu risau kalau omset bisnis ini belum mencapai seperempatnya, tidak perlu resah jika bulan ini kita menunaikan kewajiban hutang2 kita waktu lalu sementara bekal kuliah lagi belum punya, misalnya. Tidak perlu cemas jika si Buyung terpaksa shalat dengan sobat sobatnya memakai sarung yang sambungannya mesti dijahit. Ya nggak perlu risaulah!!!! Yang penting bekerjalah sebagaimana biasa dengan semangat tinggi disertai keshabaran dan qana’ah. Aturlah energi agar ibadah tidak sekedar dilaksanakan, tetapi dijalani dengan fisik bugar dan penuh perhatian serta konsentrasi. Fisik yang terfosor all out akan menurunkan kualitas ibadah kita. Jadi, pandai-pandailah mengatur diri, tentu juga termasuk mengatur menu makanan agar sesuai dengan kebutuhan fisik kita yakni yang bergizi, sehat, dan cukup.

Jadi, masih khawatir dengan rizki Allah Swt? Beribadahlah dengan sebaik mungkin, jangan-jangan ini hari terakhir kita di dunia.
Semoga Allah memudahkan kita menjadi hambaNya yang taat dan pandai mengarungi kehidupan ini ....

Aminnn 

Kita yang Perlu Taat

Kita yang Perlu Taat


“... Oleh karena itu, barangsiapa diantara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-petunjukNya yang diberikan padamu, agar kamu bersyukur.”(QS. Al Baqarah 2, 185).

Kita yang membutuhkan
                Sebagaimana kita pahami bersama bahwa ibadah bukan merupakan hajat Allah Swt kepada kita. Namun sebaliknya bahwa ibadah adalah kebutuhan mekhluk kepada RabbNya. Pada dasarnya setiap hati insan sepanjang kehidupannya merasakan kebutuhan kepada Allah Swt, itu adalah perasaan yang timbul sejak awal kehidupannya yang hakiki, dan yang tidak dapat dikelabuhinya. Lihatlah bagaimana orang-orang dari negeri Barat yang mengembara dari agama satu ke agama lain, meloncat dari keyakinan satu ke yang lain. Semua itu menggambarkan fakta bahwa manusia memang menghajatkan untuk berbakti pada RabbNya.
Ibnu Taimiyah mengatakan, “Hati sesungguhnya secara dzatiyyah senantiasa membutuhkan Allah paling tidak dalam dua hal. Pertama, hati membutuhkan ibadah kepada Allah Swt. Kedua, hati memerlukan dukungan dan pertolongan Allah Swt.
                Hati tidak akan baik dan tidak merasa beruntung, tidak merasakan nikmat dan tentram, tidak merasakn kelezatan dan keharuman, serta tidak dapat diam dan tenang kecuali dengan melaksanakan ibadah RabbNya, mencintaiNya, serta kembali kepadaNya, andai kebutuhan itu dapat terpenuhi dengan hal-hal lain yang dapat dirasakan kelezatannya oleh hati. Namun tidak, hati tidak akan dapat merasakan ketenangan dan kedamaian karena dihatinya tetap ada dorongan kebutuhan dzatiyyah kepada RabbNya. Dia adalah sesembahan, kecintaan, dan yang dicarinya. Jika semua itu dapat dicapainya, maka hait menjadi tenang dan damai karena telah meraih kesenangan, kebahagiaan, kenikmatan, ketentraman.
                Namun hal itupun tidak dapat digapai oleh hati, kecuali atas pertolongan Allah Swt. Oleh sebab hati memang tidak mampu mencapainya tanpa bantuan Allah Swt.
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan kami memohon pertolongan (QS. Al Fatiha 1, 5)

                Kalaupun apa yang diimpikan diri dapat dicapai dengan gemilang, tetapi ia tidak dapat mencapai ubudiyyah kepada Allah, maka kebahagiaan semua itu diwarna dengan rasa sakit, penyesalan, dan siksaan diri. Tidak habis2nya ia merasakan rasa sakit dan kehidupan yang merana, kecuali setelah menjadikan Allah Swt sebagai yang dicintainya dan akhir dari tujuan dan kehendaknya. Demikian keterangan lebar Ibnu Taimiyyah.